Inspirasi Desa

Pemuda dan Potensi Besarnya

Pemuda..
Sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang sangat akrab di telinga kita. Dalam boso jawa disebut, “cah enom”. Secara ringkas, pemuda memiliki makna orang dengan usia 15 – 30 tahun. Walaupun sebenarnya usia tidak menjadi tolok ukur utama. Terkadang kita saksikan sosok yang sudah melewati usia 30, tapi masih penuh dengan karya dan kerja nyata. Artinya, pemuda yang benar-benar pemuda adalah mereka yang mampu terus berkarya, terus bertindak nyata untuk kemajuan.

pemuda yang benar-benar pemuda adalah mereka yang mampu terus berkarya, terus bertindak nyata untuk kemajuan.

Kemajuan yang dimaksud meliputi kemajuan keluarga, masyarakat, agama hingga bangsa. Karya dan tindakan nyata akan mampu diwujudkan oleh pemuda daripada orang tua. Tentu hal tersebut punya alasan tho? Yap, tepat sekali. Dengan kondisi pikiran yang masih cemerlang dengan ide, badan yang masih kuat serta semangat yang tinggi menjadi modal yang luar biasa besar bagi pemuda. Inilah yang menjadi potensi terbesar bagi seorang pemuda. Pemuda ibarat lembar besi utuh yang siap ditempa menjadi apa saja. Yang terpenting adalah apa yang ditempa mampu memberikan manfaat bagi orang disekitarnya. Bukankah Rasulullah Muhammad SAW sudah dengan jelas menyatakan dalam sabdanya, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” ?

Atas dasar potensi itu juga, presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno menyuarakan dengan lantang, “Beri aku 1000 orang tua, maka akan kucabut gunung Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, maka kan ku guncangkan dunia”.

Bayangkan hai pemuda, Ir. Soekarno perlu 1000 orang tua “hanya” untuk mencabut gunung. Sedangkan Ir. Soekarno hanya butuh 10 pemuda saja untuk mengguncang dunia. Itu gambaran bahwa betapa besarnya potensi pemuda. Dunia pun mampu ia guncang dengan karya-karyanya. Bahkan akhirat pun sangat menghaargai pemuda. Salah satu golongan manusia yang mendapat pertolongan dihari kiamat adalah pemuda – yang hatiya terpaut pada masjid. Maksudnya, pemuda ini senantiasa ingin beribadah, ingin berbuat kebaikan dan bermanfaat, salah satunya melalui masjid, sholat dimasjid, kegiatan pengajian, bakti sosial maupun kebersihan.

 

Kembali pada potensi pemuda, dengan sebegitu banyaknya potensi yang dimiliki tentu sangat disayangkan jika hanya disia-siakan, bukankah begitu? Mikul duur, mendem jeru. Setidaknya marilah gunakan potensi yang hebat itu untuk membangun kemajuan diri kita, keluarga dan masyarakat disekitar kita. Tidak perlu muluk-muluk untuk bertindak. Cukup berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti desa, turut menjaga keamanan desa serta menjadikan suasana tenteram menjadi contoh sederhana peran pemuda yang besar.

Bagi yang masih berada di bangku sekolah, belajar yang rajin, menjadi pintar dan akhirnya mampu memberikan manfaat bagi masyarakat didesa. Bagi yang sudah selesai pendidikan disekolah dapat mengembangkan keterampilan dan terus belajar. Bisa melalui kursus, belajar mandiri seperti mengenal teknologi komputer misalnya. Sebab ada pemuda dari jawa timur yang cuma tamat SMP tapi mampu membuat gambar desain peralatan mobil dan kendaraan berat. Bagi yang suka dengan motor, jangan cuma kebut-kebutan saja, tetapi pahami mesin motornya, memperbaiki kerusakannya dan bisa menjadi seorang montir otomotif yang keren.

Jangan sampai potensi yang sebesar itu hanya hilang begitu saja, bahkan yang lebih buruk lagi justru muncul kegiatan negatif. Minuman keras misalnya, atau kegiatan lain yang tidak memberi manfaat bahkan justru merugikan orang lain. Marilah kita berdiri diatas kaki sendiri, menjadi pemuda mandiri, tangguh dan yang terpenting mampu memberi manfaat kebaikan bagi sekitar. Kita maksimalkan potensi besar pada diri kita, selagi mampu berkarya. Sebab akan tiba saat dimana potensi tersebut berangsur-angsur hilang.

Nek jare wong jowo, ayo podo megawe seng apik, tumindak apik, tutur seng apik ben uripe yo apik. Nek tumindak apik, wong podo seneng, nek dewe teko wong tentrem nek dewe lungo wong getun. Ojo sampek dadi sewalik’e, dewe teko wong susah, dewe lungo wong malah bungah.

Artinya, Ayo bekerja dengan baik, berprilaku baik, mengucapkan yang baik supaya hidup menjadi hidup. Kalau kelakuan baik, semua orang suka, kalau kita datang orang jadi senang, kalau kita pergi, orang pada menyesal. Jangan sampai jadi sebaliknya, kita datang orang susah, kita pergi orang malah bahagia.

 

Mengutip pernyataan Napoleon Bonaparte (sopo kui hayo), wong ndeso seng iso dadi rojo nang Perancis Eropa kono. Jare dek’e ngeneki, “misale enek 1000 wong seng tumindak apik, wes mesti aku salah sijine, yen ono 100 wong seng tumindak apik, aku yo salah sijine. Yen ono wong 10 seng tumindak apik, aku kudu dadi salah sijine. Yen misale gur ono siji wong seng tumindak apik, wes mesti kui aku”. Lho cah, Napoleon we iso boso jowo lho, de’e pernah nang Tulus Ayu paling yo? Hahahaa

Baiklah, pernyataan tersebut bukan untuk sombong, tapi untuk menegaskan bahwa kita sebagai pemuda harus dan harus berbuat kebaikan. Sekalipun seandianya orang baik didunia ini hanya 1 saja, pastikan bahwa itu kita. Apapun yang terjadi tetaplah menjadi baik dan berbuat kebaikan.

Post Comment